“Yang pergi takkan kembali lagi… amalan dan taqwa menjadi bekalan, sejahtera bahgia pulang ke sana…” lirik yang dinyanyikan kumpulan Rabbani.
Pilu aku mendengar berita tersebut. Seketika itu juga bulu romaku berdiri, terasa aneh, darah mengalir cepat, keringat dingin juga keluar. Fadhlullah sebaya dengan aku. Lahir pada tahun yang sama. Tentunya usia kita pun sama hanya selisih beberapa bulan sahaja. Setelah pemergian Arif, hari ini Fadhlullah, kedua-dua teman aku ini masih sangat muda. Semuda diriku.
Sepengetahuan aku, Fadhlullah adalah seorang yang baik. Sangat baik. Lama sudah kita tidak saling jumpa. Namun dia yang dulu tetap sama. Dia seorang yang pendiam. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah pada tahun 2005 sebelum pemergianku ke Mesir. Kami sempat beramai-ramai makan malam dirumahnya, ketika itu almarhum Arif juga masih ada. Itulah reunion tidak rasmi yang kami lakukan bersama. Namun teman-teman yang berkumpul pada malam hari itu kini telah tersisa hanya beberapa. Dua dari kami telah pergi tuk selamanya. Pergi yang tidak perlu ditunggu kepulangannya.
Hari ini, usia adik bongsuku bertambah setahun, bermakna ia sekarang berusia lima tahun. Ulang tahun kelahirannya yang bertepatan dengan hari pemergian Fadhlullah mengingatkan kita bahwa ketika akan hadirnya seorang yang baru ke alam ini, manusia di sekelilingnya sudah mempersiapkan diri tuk menyambutnya. Sang bapa telah memnyediakan segala macam peralatan yang diperlukan. Sang ibu pun telah menyiapkan dirinya, mentalnya, dan raganya demi menyambut kehadiran sang bayi. Namun, ketika seseorang akan mati. Pemergiannya sering tak terduga. Tanpa kata mahu pun tanda, dan tiba-tiba dia pergi untuk selamanya.
Tersentak diriku mendengar berita ini. Ia seakan-akan memberi petanda bagiku untuk lebih bersedia. Bahkan aku seperti merasa diberi bonus usia. Tak tahu bagaimanakah nasibku jika hadirnya kematianku pada masa yang sama dengan mereka. Mungkin saat ini aku resah dan takut, tapi besok lusa dan seterusnya aku akan kembali hanyut dalam kehidupanku dan alpa akan kehadiran malaikat maut yang bakal menjemputku. Alangkah eloknya jika kita diberitahu bilakan datang sang ajal. Tapi itu jelas tidak mungkinkan terjadi. Oh Tuhan tetapkanlah hatiku dalam Iman dan Taqwa, dalam Syukur dan Redha, sehingga saat malaikatMu hadir menjemputku.Â






