THE POWER OF DOA
Posted on September 30th, 2007 in Uncategorized
“OK, take good care of your relation with Allah SWT.. Do always pray for me.. wassalam bye..”
Demikianlah biasanya aku mengakhiri pembicaraanku via YM, dengan kebanyakan teman-temanku. Lelaki maupun perempuan. Agaknya apa yang terbenak di minda mereka membaca ayatku yang terakhir ini? Aku tidak tahu..
Aku cuma berharap mereka dapat sekedar menghadiahkanku sebuah doa. Hanya itu.
Aku sangat percaya dengan kekuatan doa. THE POWER OF DOA. Setiap hari setelah subuh ketika membaca ma’turat atau ketika berzikir melelapkan mata aku selalu membayangkan apa yang aku alami pada hari tersebut. Kuingati kembali setiap perkara yang telah berlalu. Ku renungkan kembali segala perancangan yang sudah diatur. Setiap kali hal ini aku lakukan pasti aku akan bermuara ke sebuah kesimpulan yang sama. Semuanya dibawah kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Itulah hakikat yang kadang terlepas pandang.
Disebabkan hakikat inilah yang membuatkan aku tidak dapat tidak untuk tidak bergantung pada doa. Tidak ada satupun murni hasil keringatku. Semuanya pasti ada rahmat dan inayah Allah SWT.
Ketika aku memohon seseorang untuk mendoakan diriku maka pada masa yang sama aku akan mendoakannya. Inilah rahsia mengapa menjawab salam hukumnya wajib. Salam adalah doa.
Begitu banyak contoh bagaimana seharusnya kita berdoa. Begitu banyak kisah dalam Al-Quran yang menceritakan bagaimana para nabi berdoa kepada Allah SWT. Rasulullah SAW juga memberikan contoh yang jelas ketika di perang badar. Rasulullah SAW berdiri dan berdoa dengan penuh harapan dan keyakinan. Bayangkan bagaimana cemasnya tentera muslimin yang sedikit menghadapi tentera kuffar yang begitu banyak. Baginda SAW sampai menyebut yang maksudnya seperti berikut “Seandainya tentera muslimin kalah pada hari ini, nescaya tidak akan tertegaklah agama ini selamanya..” mendengar ucapan ini Abu Bakar As-Syiddiq terus menenangkan baginda SAW dan meyakinkan baginda SAW bahwa Allah SWT akan mengabulkan doanya.
Di sini jelas menunjukkan bagaimana bersungguh-sungguhnya Rasulullah SAW dalam memohon kepada Allah SWT. Seorang soleh berkata bahwa kita perlu berdoa seperti kita sedang terapung di tengah lautan. Tiada yang dapat menolong kita melainkan Allah SWT. Hakikat kita hidup di dunia sebenarnya sama dengan seorang yang hampir lemas di tengah lautan. Kalaulah bukan kerana rahmat dan kasih sayang Allah SWT kita telah pun lemas tenggelam. Namun, ramai dari kita yang tidak menyedari hal ini. Maka, jangan mengeluh ketika doa kita belum terkabulkan. Siasati diri, sejauh mana usaha kita dalam berdoa. Sebersih mana darah kita dari makanan, pakaian dan barang-barang yang haram.
Ketika seorang sahabat bertanya tentang Allah SWT, Allah SWT terus menjawab, “Wa iza saalaka ibadi ‘anni fainni qarib, ujibu da’watad da’i iza da’a ni fal yastajibu li wal yu’minu bi la’allahum yarsyudun.” Al-Baqarah 186 {dan apabila hambaku bertanya kepadamu tentang diriku, maka sesungguhnya Aku adalah sangat dekat, Aku menjawab doa mereka yang meminta kepadaKu, maka hendaklah mereka menyahut seruanKu, dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka sentiasa diberi petunjuk} di dalam ayat ini, Allah SWT tidak menggunakan kata-kata “katakanlah..” sebagaimana lazimnya. Terdapat banyak pertanyaan shahabat tentang berbagai hal yang Allah SWT jawab menggunakan “Katakanlah..” seperti tentang ahillah dan haid dalam surah Al-Baqarah. Akan tetapi Allah SWT terus menjawab soalan yang dilontarkan tanpa menggunakan perantara RasulNya. Ia tidak lain dan tidak bukan untuk menunjukkan betapa dekatnya Allah SWT terhadap hambanya. Allah SWT mendengar setiap rintihan kita walaupun kita bisikkan di dalam hati.
Budaya doa mendoakan adalah sebuah budaya sihat yang perlu dimasyarakatkan. Salah satu hal yang paling aku suka mengenai tinggal di tanah arab ni adalah budaya mereka berdoa dan mendoakan. Seandainya anda melihat dua orang kawan yang telah lama tidak berjumpa kemudian berjumpa, mereka akan mulakan dengan sesi tanya kabar yang begitu panjang. Mereka akan tanya, apa kabar, bagaimana kerja, bagaimana kesihatan, bagaimana anak dan isteri, bagaimana mak dan ayah, bagaimana itu.. bagaimana ini.. sehinggalah penat orang yang mendengarnya. Dan biasanya jawapan mereka pun tidak jauh berbeza antara satu soalan dan yang lain. Alhamdulillah, semoga Allah memuliakan kamu. Jawapan ini diulang-ulang. Orang yang tidak paham akan geleng kepala melihat hal ini. Namun, bagi aku, ini merupakan sebuah contoh budaya doa mendoakan yang nyata muka ke muka yang perlu dicontohi.
Begitu juga ketika mereka ingin berpisah, atau ingin melakukan apa-apa kegiatan, atau menentukkan satu keputusan. Mereka pasti akan berdoa. “Tawakkal alallah, atau siru ala barakatillah, atau, Allah yusallimak.” dan berbagai lagi ungkapan yang digunakan yang serat dengan doa.
Addu’a mukhul ‘ibadah
Doa merupakan inti dari ibadah. Seandainya kita meneliti kembali setiap dari ibadah rutin yang telah diwajibkan ke atas kita. Kita akan mendapati bahwa setiap ibadah memberi kita peluang untuk mengakui status kita sebagai hamba dan mengakui status Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Kuasa dan Muhammad Bin Abdullah merupakan utusanNya. Dengan pengakuan ini kita kemudian akan timbul rasa takut yang dikenal sebagai taqwa. Taqwa menjadi out put. Prosesnya adalah ibadah dan inputnya adalah Iman. Maka lahirlah rumusan berikut :
input —> proses —> output
Iman —> Ibadah —> Taqwa
Dengan menjadikan taqwa sebagai main aim maka, kita secara tidak langsung telah melakukan sebuah doa. Taqwa merupakan sebuah karuniaan Allah SWT pada hati manusia. Solat sebagai contoh, pada setiap bacaan dan pergerakan dalam solat mengandung erti doa.  Maka, nilai kualiti ibadah tersebut diukur dari ke-khusyukkan kita ketika melakukannya. Kesempurnaan. Keistiqomahan. Yang semuanya bermuara pada kesungguhan berdoa. Ketika seseorang beribadah dengan ikhlas, dia mengharap redha Allah SWT dan berlindung dari azabNya. Bukankah itu merupakan sebuah doa?
MOHONLAH AGAR DIDOAKAN DAN SELALU MENDOAKAN
Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang pada kalian seorang pemuda bukan dari golongan sahabah(yang sempat bertemu dengan Rasulullah SAW), akan tetapi dia merupakan seorang tabiin (Tidak sempat bertemu Rasulullah SAW) yang bernama Uwais Al-Qarni dari Yaman, maka jika kalian mampu meminta dia untuk mendoakan kamu dan memohon ampun bagimu maka lakukanlah” Lalu sayyidina Umar Al Khattab berkata, “aku melihat kepada Baginda SAW (kerana pelik) dan Baginda SAW melihat pula kepadanya dan berkata kepadaku, “Dan kamu wahai Umar, seandainya kamu menjumpainya mintalah agar dia mendoakan kamu.”
Kisah di atas membuktikan bahwa kita boleh meminta agar orang lain mendoakan kita. Apalagi orang yang sangat dekat pada kita seperti ayah, ibu dan keluarga. Kita boleh meminta kepada mereka untuk selalu mendoakan kita. Tentunya sebagai konsekuensinya, kita juga perlu mendoakan orang tersebut.
Berdoalah dengan keyakinan penuh bahwa Allah SWT akan mengabulkannya. Berdoalah dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh. Berdoalah terus menerus. Jauhilah makanan, pakaian dan barang-barang haram. InsyaAllah doa kita akan sentiasa di kabulinya.

Leave a Comment