Bukan tak faham tapi tak mahu,
menghulur tangan berisi angan,
juga tak mahu menjaja harapan,
bila tak mampu menjanji kenyataan,
aku perlu hanya satu,
andai saja ia milikmu,
pasti berani aku merayu,
semewah emas tidak serupa,
benda berharga bernama masa!
Kaherah 13.24, 04 Oktober 2008
Entah mengapa tiba-tiba hadir feel untuk bermada. Aku tak pasti baris-baris di atas layak dikategorikan sebagai apa. Puisi, syair ataukah sajak? Apa yang pasti ia bukan pantun!
Ketika mencoret baris-baris di atas, aku membayangkan seorang pemuda yang mendapat isyarat dari seseorang. Seseorang yang bergelar wanita. Dia yang selama ini memelihara diri dari virus cinta berhadapan dengan sebuah fenomena dimana sang wanita hadir di hadapannya. Hadirnya si gadis jelita dengan penuh sopan santun. Isyarat diberi menjaga diri. Maruah terpelihara, iman terjaga. Dengan budi dia berbicara menyampaikan hasrat di dada. Hasrat disampai dengan kiasan, bukti indah bahasa warisan. Cuma resahnya, jika panah tidak kena sasaran.
Sang pemuda tidak membalas. Menjawab dengan penyataan yang mengambang. Pura-pura tidak faham. Pemuda belia menyendiri. Berkomunikasi dengan hati. Mencari alasan membela diri. Agar prasangka tidak terjadi. Agar hati sedap kembali.
Kata orang, “rezeki jangan ditolak, musuh jangan dicari!”. Siapakan mampu menolak tawaran diri untuk dimiliki. Bak putri kayangan meminang pemungut sampah. Memang durian sudah runtuh. Rembulan pun jatuh ke riba.
Kata si haloba, “ini kesempatan emas!”
Kata si bijaksana, “jangan tergesa-gesa!”
Kata si hati, “dia memang pujaan!”
Kata si iman, “janji itu bahaya!”
Kata si nafsu, “harapan sebagai ikatan!”
Kata si taqwa, “serahkan saja urusan!”
Kata si akal, “yang diperlukan adalah waktu!”
Si syaitan marah, “mengapa tak boleh memberi angan!”
Kata hati sambil mengeluh, “Huh, andai saja realiti merupakan kekuasaan!”
Si malaikat tersenyum berkata, “urusan kita ditangan Tuhan!”
Minda mencelah, “ajal datangnya tak menentu, rezeki hadirnya tanpa disangka!”
Emosi masih berusaha, “minta saja waktu!”
Minda bertegas, “bukankah waktu bukan miliknya dan bukan milikku!?”







