Nidaurrahman (1)

Posted on August 2nd, 2009 in Nidaurrahman

“Wahai orang yang beriman janganlah kamu mengatakan ‘ra’ina’ tetapi katakanlah ‘unzurna’ dan dengarkanlah, dan bagi mereka yang kafir azab yang pedih.” Al-Baqarah 104

Di dalam sebuah buku berjudul Nidaaturrahman (Seruan-seruan Ar-Rahman), ayat di atas diletakkan pada urutan yang pertama. Ia merupakan sebuah perintah Allah SWT yang dikhususkan kepada mereka yang mengakui diri mereka sebagai golongan beriman.

Dikisahkan ketika wahyu Allah SWT turun kepada Muhammad Rasulullah SAW, umat Islam berkata kepada Baginda “ra’ina” yang bermaksud perhatikanlah kami atau awasilah kami. Ia merupakan ungkapan permohonan agar Rasulullah SAW sabar mengajarkan wahyu yang baru turun kepada Baginda.

Perkatan ‘ra’ina’ bagi masyarakat Yahudi ketika itu merupakan sebuah kata yang mengandung erti celaan atau hinaan. Maka dengan menggunakan istilah itu mereka mempersendakan Baginda Rasulullah. Kaum Yahudi berkata, “Kita dahulu mencela Muhammad secara sembunyi-sembunyi, maka sekarang ayuh kita cela dengan terang-terangan!” Lalu mereka mendatangi Rasulullah dan berkata, “Wahai Muhammad, Raina!” lalu mereka ketawa beramai-ramai. Menurut Imam Tabari dalam tafsirnya, Sa’ad Bin ‘Ubadah (atau Saad Bin Mu’adz menurut Tafsir Kassyaf) berkata kepada mereka, “Wahai musuh-musuh Allah, laknat Allah ke atas kalian, Demi jiwa Muhammad di tanganNya (Allah), jika aku mendengarkan sekali lagi dari seseorang antara kalian niscaya akan aku penggal lehernya, masih beranikah kalian mengucapkannya?”

Maka setelah peristiwa ini turunlah ayat di atas.

Allah ingin mendidik orang yang beriman agar memiliki sopan santun terhadap Rasulullah. Etika seorang yang memerlukan ilmu dengan Rasul yang merupakan sumber ilmu dan syariat.

Akhlak, etika, tata tertib, sopan-santun, adab adalah hal yang paling utama yang perlu diperhatikan dalam Islam. Ia juga hal yang paling utama yang perlu ditanamkan dalam individu muslim.

Seorang mukmin tidak pernah akan bersikap tergesa-gesa dalam menuntut ilmu. Seorang guru juga sentiasa sabar mengikuti perkembangan anak didiknya.

Perkara yang membezakan seorang mukmin dan bukan mukmin adalah apa setelah menerima ilmu tersebut. Perintah agar mendengarkan adalah perintah supaya menyerahkan sepenuhnya pendengaran kepada apa yang disampaikan Rasulullah sehingga tidak menimbulkan salah faham dan tidak juga persoalan. Perintah mendengarkan itu juga adalah perintah agar mentaati dan melaksanakan semua yang telah di dengarkan. Golongan Yahudi dan musyrikin mendengarkan seruan Rasulullah yang mengandung segala perintah dan larangan tetapi mereka memilih untuk mengingkari dan mendustakan. Al-Quran menceritakan ucapan mereka berbunyi, “Sami’na wa ‘ashoina..” Kami telah mendengarkan dan kami melanggarnya.

Kesopanan mukmin mentaati perintah ayat ini menjadikan mukmin sangat bersopan santun dan beretika bila mana berhadapan dengan sesiapa sahaja yang membawa ilmu bahkan sopan terhadap ilmu itu sendiri. Tidak ada muslim yang mencerca dan memburukkan mana-mana ulama walau tidak sefahaman. Bahkan walau berlainan Aqidah.

Sopan terhadap Rasulullah bermakna mempersiapkan diri, jiwa dan minda untuk benar-benar memperhatikan apa yang bakal disampaikan Rasulullah. Kemudian menyerahkan diri sepenuhnya kepada Nabi agar diperbaiki yang salah. Sedia ditegur dan sedia diperbetul. Kesopanan ini adalah kesopanan terhadap Rasulullah dan Ilmu dari Rasulullah dan tentu juga Allah SWT selaku sumber segala-galanya. Bersikap kurang ajar terhadap ilmu dan terhadap Rasul adalah umpama kurang hajar terhadap Allah SWT.

Hal yang sama perlu kita terapkan selama-lamanya. Bila saja kita berinteraksi dengan ilmu entah Al-Quran mahu pun Sunnah sikap ini perlu diutamakan. Sikap menyerahkan diri kepada Rasulullah dan menerima teguran dari Baginda. Serahkan diri kepada ilmu dan jangan meremehkannya. Rela menjadikan ilmu (Al-Quran dan Sunnah) sebagai penegur kita. Rela bersabar dalam meniti liku-liku meraihnya. Rela bersusah payah untuk melaksanakan setelah memahami kandungannya.

Published by taqeyyabella

Leave a Comment

Share