Antara hantu dan manusia, siapa kuat? siapa perkasa? siapa raja? siapa hamba? siapa mulia? dan siapa hina?
Sebelumnya perlu kita ketahui apakah itu hantu. Sampai saat ini aku pun tidak menemukan apakah sebenarnya hantu itu. Namun, kita perlu percaya yang Allah SWT menciptakan makhluk selain manusia di atas muka bumi ini. Iaitu makhluk yang tercipta dari api, dan cahaya yang kita kenal sebagai syaitan, jin dan malaikat.
Pernah suatu ketika di dalam program realiti TV yang dikenal sebagai tanya linda, dibincangkan topik ini. Panel ketika itu adalah uncle SEEKER, pakar Juru Kamera, dan pakar Motivasi Dato’ Haji Fadilah Kamsah. Namun perbincangan itu tidak menghasilkan apa-apa kesimpulan yang dapat diterima dengan mudah. Masih-masing berusaha mempertahankan pendapat masing-masing.
Dalan surah Al-Baqarah di ayat yang ketiga disebutkan “Yang beriman kepada Al-Ghaib..” Ada yang salah menafsirkan al-ghaib disini. Uncle seeker pada saat itu mengatakan bahwa, al ghaib ini adalah alam gaib yang termasuk di dalamnya hantu, pocong, genderuwo, tuyul dan sebagainya. Memang tidak salah di artikan dengan sedemikian rupa kerana memang makhluk-makhluk tersebut adalah antara hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Namun bagaimana sebenarnya mengimani al-ghaib yang dimaksudkan di ayat ini.
Al-Ghaib dalam ayat ini mempunyai sudut pandang yang lebih luas. Tidak boleh kita menyempitkan sudut pandang al-ghaib ini hanya kepada hantu. Al-ghaib di dalam ayat ini diteruskan dengan mendirikan solat dan sedekah. Tentunya apabila di hubungkan beberapa perkara dalam satu ayat maka ianya mempunyai tujuan dan maksud yang tertentu. Maka, Al-Ghaib disini memberi maksud bahwa hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh mata itu adalah seperti syurga dan neraka. Di sini kita temukan kesinambungan ayat tersebut. Alif lam mim, Itulah kitab yang tidak ada keraguan padanya, hidayah bagi orang-orang yang bertaqwa. Iaitu mereka yang beriman kepada Al-Ghaib, mendirikan solat, dan menginfaqkan dari rezeki yang telah Kami berikan.
PERCAYAÂ AL-GHAIB
Hantu, jin dan malaikat adalah antara makhluk ghaib yang perlu kita percayai. Lalu, bagaimanakah kepercayaan kita terhadapnya?
Kita perlu percaya bahwa makhluk-makhluk tersebut memang wujud. Mereka adalah ciptaan Allah SWT yang juga diciptakan untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Mereka juga makhluk yang tidak memiliki kuasa sama seperti manusia melainkan kuasa yang Allah SWT tentukan. Mereka juga makhluk yang lemah dan tidak kekal sama seperti manusia.
TAKUT HANYA KEPADA ALLAH SWT
Ketika kita telah memahami konsep hantu, jin, syaitan dan makhluk-makhluk yang sebangsa dengannya. Maka mudahlah bagi kita untuk mengawal jiwa kita. Ketika kita tahu yang tidak ada kuasa di atas muka bumi ini melaikan Kuasa Allah SWT maka kita tidak perlu takut melainkan kepadaNya.
Perasaan berani dan takut perlulah dilatih. Ketika kita ingin menjadikan diri kita hanya takut kepada Allah SWT, maka kita juga perlu memupuk perasaan berani kepada selain Allah SWT. Lalu bagaimana memupuk perasaan berani itu?
“Nanti hati-hati di hutan tu, kalau jalan jangan pandang belakang, sebelum melakukan sesuatu harus minta izin.. harus ini, harus itu, ini pantang larang orang tua-tua kena selalu diingat..” pesan seorang kakak pada adiknya.
“Ala.. tak pe.. bukannya mereka akan kacau kita pun, ntah-tah hantu tu pulak yang takut ngan kita..” jawab sang adik.
” Eh dik, jaga sikit mulut tu..” marah sang kakak.
Dialog seperti di atas adalah hal yang sangat biasa bagi masyarakat kita. Namun, ianya sangat bahaya dan sensitif. Masalah keyakinan dan kepercayaan adalah sangat bahaya jika tersalah. Ianya bukan hal yang boleh diubah dengan perbuatan fizikal. Ianya masalah akal, hati dan keyakinan.
Kita haruslah mengubah cara hidup kita untuk menimbulkan takut pada Yang Maha Esa dan berani pada selainNya. Antara cara yang dapat mengatasi masalah ini adalah sebagai berikut :
1. Menggantungkan diri kepada Allah SWT setiap saat.
Dalam usaha menggantungkan diri kepada Allah SWT, Rasulullah SAW telah mengajarkan kita untuk berdoa di setiap tempat, keadaan, waktu dan tindakkan. Ketika seseorang memahami erti setiap doa yang dibaca dan mengamalkannya, maka dia akan selalu merasa terselamat kerana doa yang dia paham dan baca menimbulkan sebuah perasaan selamat dibawah perlindungan Allah SWT.
Keyakinan yang diperoleh dari bacaan doa tersebut juga akan melahirkan keberanian yang sangat tinggi, ini kerana dia yakin bahwa segala yang terjadi ke atas dirinya sama ada baik atau pun buruk adalah kehendak Allah SWT. Sehingga jika dia berhadapan dengan raja segala hantu sekali pun dia yakin bahwa apa-apa yang terjadi padanya bukanlah kerana kekuatan raja hantu tersebut melainkan kerana ketentuan Allah SWT.
2. Memagar diri
Ketika kita sudah berjaya menggantungkan diri kepada Allah SWT dalam setiap waktu, keadaan, dan tindakkan. Maka perlulah kita melanjutkan ke langkah seterusnya iaitu memasang pagar diri. Setelah kita berjaya menggantungkan diri kepada Allah SWT dalam konteks kepercayaan. Maka kita juga perlu menggantungkan diri dalam bentuk amalan dan perbuatan. Amalan dan perbuatan inilah yang kita namakan pagar diri.
Bagaimanakah pagar diri yang diajarkan oleh Rasulullah SAW?
Imam As-Syahid Hassan Al-Banna telah merumuskan satu amalan yang diambil berdasarkan sunnah Rasulullah sebuah pagar diri yang diberi nama Al-Ma’tsurat. Al-Ma’tsurat adalah kumpulan zikir-zikir yang di amalkan oleh Rasulullah SAW pada pagi dan petang setiap hari. Ia terdiri dari ayat-ayat pilihan dan doa-doa.
Selain itu, Rasulullah SAW juga telah mengajarkan kita untuk selalu berdoa dalam setiap tindakkan. Sebelum memasuki bilik air, pasar, masjid, doa kita melalui tempat penduduk yang pernah dilaknat Allah, doa mendapat nikmat, doa mendapat musibah, doa ketika marah. Semua doa-doa ini adalah pagar diri yang selalu dilupakan oleh ramai umat Islam.
3. Menunjukkan Berani
Untuk menghilangkan takut kita perlulah menunjukkan berani. Sudah fitrah manusia memiliki rasa takut. Takut akan kegelapan, takut akan bunyi-bunyi aneh, takut akan guruh, angin dan sebagainya. Namun setiap perasaan takut itu dapat dibendung seandainya kita mahu berusaha tuk berani. Ketika kita berjalan di sebuah tempat yang tiada orang, lalu kita mendengar bunyi yang menakutkan, kita perlulah untuk bersikap berani atau paling tidak pura-pura berani. Dengan sikap pura-pura berani ini, kita mencari dari mana arah bunyi tersebut datang. Maka kita akan menemukan bahawa bunyi itu adalah hasil tiupan angin yang mengenai daun pisang yang lebar.Â
Setiap bunyi, tentunya akan ada sumbernya. Dengan keyakinan itu kita akan tidak percaya dengan perasaan takut yang tercipta hasil keadaan yang menyeramkan itu, padahal tiada apa-apa pun yang perlu di takutkan.
Di Mesir, terdapat jutaan rakyat yang tidak mempunyai tempat tinggal terpaksa tinggal di tanah perkuburan. Masyarakat Mesir gemar untuk mendirikan bangunan di setiap kubur keluarga. Bangunan-bangunan tersebut akhirnya menjadi tempat berlindung kaum fakir miskin di sana. Timbul persoalan ketika melihat meraka, tidakkah mereka takut untuk tinggal di tanah perkuburan?
Setelah membandingkan aku menemukan bahwa keadaan geografi negara kita yang mempunyai pohon-pohon besar, angin yang sentiasa berhembusan, bunyi serangga-serangga di waktu malam menciptakan sebuah suasana ngeri yang khas. Dari suasana ngeri inilah manusia selalu berimaginasi dan akhirnya menimbulkan rasa takut terhadap dirinya sendiri.
HANTU ADALAH MAKHLUK BIASA SEDANG MANUSIA ADALAH SEBAIK-BAIK CIPTAAN
Allah SWT memberitahu kita di dalam Al-Quran bahwa kita adalah Makhluk sebaik-baik ciptaan. Namun kita juga mungkin menjadi seteruk-teruk ciptaan seandainya kita gagal melaksanakan tugas kita dengan baik.
Kecemburan dan hasad yang ditunjukkan syaitan ketika di perintahkan Allah SWT untuk hormat kepada manusia adalah bukti bahwa manusia ini adalah sebaik-baik ciptaan. Kecemburuan yang menyebabkan ingkarnya syaitan terhadap perintah Allah SWT itu kemudian diikuti dengan keMurkaan Allah SWT. Menyikapi kemurkaan Allah itu, syaitan kemudian meminta untuk menyesatkan manusia sebagai balasan.
Maka adalah tidak layak bagi kita untuk hormat apa lagi tunduk dan mengagungkan syaitan. Syaitan akan merasa sangat kagum dan bangga jika makhluk semulia manusia tunduk kepada mereka. Berdasarkan logik ini perlulah kita menjadikannya landasan kepercayaan kita agar kita tidak takut kepada syaitan, jin dan sebagainya.
BAGAIMANA PULA DENGAN SIHIR?
Sihir adalah suatu yang memang mungkin terjadi. Namun, seperti mana yang lainnya, sihir juga terjadi diatas kehendak dan ketentuan Allah SWT. Rasulullah SAW sendiri pernah di sihir. Walaupun sihir terjadi melalui seseorang (bomoh atau pawang sebagai contoh) namun bukan berarti kita perlu percaya kepadanya. Apalagi menyembahnya. Manusia tetap manusia. Jin tetap jin. Syaitan tetap syaitan. Kalau manusia boleh mencederakan manusia lain dengan menggunakan kekuatan tangan ketika menumbuk. Maka begitu juga sihir yang terjadi akibat perantara jin dan syaitan.
Yakinlah pada Allah SWTÂ dan jadikanlah Allah SWT sebagai pelindung. Martabatkanlah dirimu sebagai manusia yang merupakan sebaik-baik ciptaan.Â
    Â







August 19th, 2008 at 4:08 pm
hantu memang bangang celaka setan natang