Keletihan masih terasa saat aku merebahkan tubuh ke kursi besi kantin Dewan Malaysia Abbasiah Kaherah. Aku dan seluruh peserta kursus baru saja selesai melaksanakan pembentangan rancangan perniagaan yang merupakan tugas bagi setiap kumpulan dalam kursus keusahawanan yang aku sertai. Sambil menikmati potongan kek, kami berbual menghilangkan penat.
Encik Ishak, Timbalan Pengetua Kolej Keris Mas datang menyertai kami setelah beberapa peserta perempuan yang berbincang dengannya meminta diri. Topik dibuka. Perihal kedatangan pelajar perubatan dibawah agensi-agensi bukan kerajaan menjadi topik perbincangan. Eh! tanpa disedari perbincangan malah mengalir membahaskan tentang perihal kehidupan yang berkait dengan korupsi dan penyalah gunaan kuasa.
Andaian dan bayangan menjadi penerima digambarkan. Mampukah kita mengatakan tidak jika ribuan ringgit menjadi milik kita hanya dengan menurunkan tandatangan kita? Mungkin mudah berkata, hakikatnya belum tentu mampu. Manusia punya keadaan tersendiri, keinginan dan tidak ketinggalan bisikan syaitan.
Kisah demi kisah mengalir. Perhatianku terpaku pada kisah seorang pensyarah berpakaian seksi dan berpenampilan anggun yang mengkritisi mereka yang korupsi waktu solat. Katanya, waktu makan tengah hari dan solat telah diperuntukkan pada waktu rehat. Namun, banyak yang tidak menggunakan waktu rehat itu untuk makan atau pun solat, tetapi mereka malah tidur. Ketika waktu rehat telah usai barulah mereka mengerjakan solat dan makan. Itukan namanya korupsi waktu!
Aku terpanggil untuk menilai diriku sendiri. Wah! tak terhitung berapa banyaknya korupsi yang telah aku lakukan terhadap Tuhanku Allah SWT. Korupsiku terhadap kedua orang tuaku. Korupsiku terhadap diriku sendiri. Korupsiku terhadap hak-hak orang lain.
Seharusnya manusia memperuntukkan keseluruhan masa hidupnya untuk ibadah. Aku begitu yakin kehidupan sehari-hariku masih terlalu banyak yang tidak termasuk dalam kategori ibadah. Maknanya aku telah korupsi hak ibadah yang seharusnya menjadi milik Tuhanku! Ironisnya lagi, waktu ibadah khususku seperti solat pun telahku korupsi dengan memikirkan perihal dunia saat melakukannya. Tak terhitung betapa korupsinya aku terhadap milik-milik Tuhanku.
Wah! tak mampu lagi aku memikirkan. Korupsi.. Ohh Korupsi!!!






