Komen Santri Pacaran
Posted on July 2nd, 2008 in Agama, Gontori
Terima kasih saya ucapkan kepada Saudari Nisa yang sudah mengunjungi blog saya ini dan kemudian melontarkan sebuah soalan.
Saya tamat dari Darussalam Gontor pada 2003 dan mengabdi pada 2004.
Apa komen saya tentang santri (pelajar) Darussalam yang pacaran?
Pertama, kita cukup jelas bahawa yang halal itu adalah halal dan yang haram itu adalah haram. Antara halal dan haram adalah perkara yang syubhah yang perlu kita hindari. Dengan bahasa lain, yang haram sudah jelas dan yang halal juga sudah jelas (bayyin).
Kedua, saya tidak pasti mengapa Saudari Nisa melontarkan soalan ini. Adakah kerana kesemua santri Gontor yang saudari kenal pacaran?
Jika jawapannya adalah ya. Hal itu amat menakutkan. Wal’iyazubillahi.
Ketiga, perlu saya akui bahawa santri Gontor memiliki keyakinan diri yang agak tinggi, semangat yang mantap dan daya kerja yang sangat baik. Secara peribadi, saya rasakan hal-hal tersebut mempengaruhi (yuatsir) kepada diri yang menyebabkan kita agak PD (percaya diri) berhadapan dengan wanita.
Di sisi lain, santri Gontor yang begitu lama hidup dalam dunia Gontor akan menghadapi suatu culture shock. Bertahun-tahun hidup dalam penjara suci yang semua penghuninya adalah sejenis kemudian dibayangi dengan disiplin yang tinggi di Gontor sungguh jauh berbeza ketika berada diluar Gontor. Ketika keluar secara manusiawinya, mereka menemukan suatu yang selama ini dirasakan hilang. Perasaan dan keinginan mempengaruhi pertimbangan mereka yang menyebabkan mereka gagal membuat keputusan yang tepat.
Namun, menurut amatan saya perkara yang demikian biasanya hanya bersifat seketika dan tidak selamanya. Biasanya mereka bakal gila-gilaan pacaran pada satu, dua tahun pertama sahaja setelah lulus Gontor. Ketika mana saat itu darah mereka masih muda dan mata mereka dikelabui perasaan sepi yang kian lama dirasai ketika di Gontor. Menganjak tahun ketiga dan keempat setelah keluar dari Gontor biasanya mereka bakalan (akan) buka mata dan mula menghadapi realiti (realitas). Saat itu kuliah S1 (degree) mereka sudah pun hampir selesai. Fikiran mereka mula sibuk dengan urusan meneruskan S2 atau kerja dan sebagainya. Keadaan ketika itu membuatkan mereka mula meninggalkan pacaran dan lebih serius menghadapi hidup.
Saya belum menemukan anak Gontor yang pacaran sehingga zina. Walaupun saya tahu memang mungkin ada. Namun, jika digeneralisasikan kebanyakkan mereka hanya sebatas berkawan dan tidak sampai melakukan hal-hal yang lazimnya orang pacaran lakukan. Mereka tidak melakukan perkara-perkara yang jelas-jelas ditentang syara’ seperti ciuman atau zina. Jika memang mereka sampai melakukan perkara tersebut sudah selayaknya mereka tidak lagi diakui sebagai santri Gontor.
Keempat, sistem Gontor yang begitu dinamis dan bebas sangat-sangat bertentangan dengan segala yang bersifat kongkongan. Ia mendarah daging. Ini saya rasakan ketika sangat sulit saya peribadi menerima gagasan mereka yang mati-matian memisahkan antara wanita dan lelaki. Menurut saya yang demikian tidak sihat. Namun, ianya sangat sihat bagi situasi di sekolah sebagai contoh.
Apa yang saya maksud adalah, memisahkan wanita dan lelaki agar tidak bergaul adalah suatu yang tidak mungkin. Bahkan saya berani mengatakan bahawa Islam tidak pernah memerintah hal yang demikian. Apa yang Islam ajarkan adalah bergaul sesuai dengan batasan yang ditetapkan. Kita dibolehkan bergaul akan tetapi kita diperintahkan untuk menjaga pandangan. Kita diperbolehkan bertemu akan tetapi kita diperintahkan agar tidak berdua-duaan. Kita dibolehkan keluar dari rumah akan tetapi dengan menutup aurat yang mampu menarik perhatian lawan jenis. Itu semua tidak cukup, Islam kemudian memerintahkan kita menjauhi segala yang mungkin menyebabkan dan mendekatkan seseorang kepada zina. Fahami bagaimana Islam meletakkan batasan-batasan sehingga pergaulan antara lelaki dan wanita tidak memudaratkan mana-mana pihak.
Perlu kita akui juga demi menjalankan hal ini tidaklah mudah. Berat mata memandang berat lagi bahu yang memikul. Realiti di alam nyata begitu bertentangan. Kerana itulah kita memerlukan pembinaan dalaman pada setiap individu agar sentiasa selamat dari tipu daya syaitan. Maka hal yang paling berperan bagi aspek ini adalah spiritual.
Kelima, anak Gontor sangat-sangat aktif. Bahkan tidak salah dikatakan hyperaktif. Mereka digodok (direbus) dalam sistem pendidikan yang sangat berdinamika. Kehidupan mereka penuh dengan pergerakkan dan kegiatan. Ketika mereka meninggalkan Gontor mereka hilang lapangan untuk bergiat. Maka masa-masa kosong yang dulunya terisi dengan kegiatan yang sihat, minta untuk diisi. Faktor ini menyebabkan mereka berkesempatan dan memilih untuk melakukan kegiatan tambahan yang selama ini tidak pernah mereka alami. Akhirnya waktu yang ada mereka gunakan untuk pacaran.
Anak Gontor yang sedar akan hal ini tidak akan menjebakkan diri. Mereka akan mengarahkan kegiatan mereka kepada yang syari’. Kerana mereka tahu masa luang bakalan merusak mereka. Kegagalan mendapatkan saluran untuk beraktiviti menyebabkan mereka masuk ke dalam perihal yang negatis seperti pacaran.
Keenam, Saya masih menemukan banyak dari teman-teman Gontor yang masih iltizam dengan batasan-batasan agama yang mereka sedia maklum. Bahkan antara mereka ada juga yang mutasyaddid (keras) sehingga melarang pergaulan lelaki wanita secara mutlak. Juga masih banyak yang mampu bergaul dengan tata cara yang sopan dan manis dipandang mata.
Ketujuh, Gontor sangat tegas dalam permasalahan ini. Walaupun Gontor memiliki kampus putra dan putri mereka tidak memiliki peluang untuk saling kenal. Ia menyebabkan seakan-akan Gontor putra dan Gontor putri dua sekolah yang berbeza. Jaraknya saja hampir ratusan KM. Namun, siswa dan siswi kadang pinter mencari peluang terutama ketika liburan. Walaupun demikian hubungan mereka tidak bisa berterusan kerana terhambat disiplin yang begitu ketat. Keseriusan Gontor berkaitan permasalahan ini jelas ketika setiap mereka yang berhubung dikenakan sangsi (hukuman) buang sekolah atau DropOut. Tidak main-main.
Itulah usaha Gontor yang merupakan sebuah sistem. Dan ia telah pun berjaya mengawal selama mana si santri berada di Gontor. Ketika si santri melangkah keluar dari Gontor dan keluar dari sistem Gontor mereka kembali kepada hati nurani mereka. Jika bersih hati mereka insyaAllah mereka bakal terlindung dari hal-hal yang tidak sihat. Setiap institusi mampu membuat sistem akan tetapi tidak mampu mencipta hati. Hati mutlak milik individu. Masing-masing mewarnainya sesuai yang mereka inginkan. Gontor hanya mampu menyediakan sarana agar masing-masing mudah mewarnai hati masing-masing dengan warna yang Islam redhai. Intinya (kesimpulannya) semuanya kembali ke individu.

August 4th, 2008 at 10:46 pm
just coba kasi respons…pd smua tulisan awk,,,senaya..mungkin alumni gontor boleh dikatakan tak sebagus quality nya dengan alumni thn 90 keatas…..sangat jauh berbeza…perbezaan quality alumni yang dikeluarkan gontor pada thn 60/70/80 an sangat lain dengan alumni 2000 an, dan menanggapi masalah alumni yang bad…trernyata data yang didapati ….yang teruk dan terlalu teruk pon banyak,,,dan mungkin tulisan awk terlalu baik memuji alumni gntor…sbb minimum alumni yang tukar agama pon ader….tq/,,
August 5th, 2008 at 3:03 pm
Mungkin ada sense ‘memuji’ dalam artikel ni, sebabnya abang pribadi merasakan hasil yang terkesan kepada diri sendiri. Masalah apa yang berlaku dengan sebahagian dari alumni yang terkesan mutakhallif itu adalah suatu yang wajar. Namun ia akan berubah menjadi kegagalan sistem bila jumlah mutakhallif ini meningkat dari sebahagian menjadi kebanyakkan. Wal’iyadhubillah.
Perlu kita akui sebahagian dari mereka layak dikatakan ‘liar’ bila keluar, namun semua mereka adalah orang-orang yang sedia untuk bekerja dan bertindak. Semangat itu yang jarang kita dapatkan dari sistem pendidikkan biasa.
Apa yang abang lihat, perkara yang paling menakutkan adalah bila si alumni mengalami ‘shock culture’ dan tak mampu nak adapt. Secara sistem kita perlu akui keunggulan gontor.
September 1st, 2008 at 3:13 pm
Semoga semua alumni kita sukses di demua tempat aja. Saya yakin setip individu dari alumnus gontor sudah cukup mengetahui dasar-dasar filsafat hidup yang didapatkan dari gontor atau dari sumber yang lain. Dengan itu saya yakin Alumnus dapat berkiprah di semua bidang. AMIN!!!! MAZIEROO 681
September 4th, 2008 at 10:53 pm
Assalamualaikum,
Pada saya, saya sangat setuju dengan pendapat dan cara antum menjawap soalan-soalan yang dikemukakan. Saya sendiri tak dapat berfikir sejauh itu. Seandainya saja soalan itu dilontarkan kepada pimpinan pondok sendiri, pasti lebih banyak lagi jawapan positif yang dapat kita temui.
Dengan jumlah santri Gontor yang mencapai ribuan dengan background kehidupan yang beberbeza itu, tak semuanya dapat dipastikan dari kalangan orang-orang baik. Namun tak dapat dipungkiri tak semuanya buruk. Gontor bukan magician atau ahli silap mata yang dapat mengubah orang dengan sekelip mata. Apa yang baik kita ambil, sebaliknya yang buruk kita buang.
Sebenarnya kembali kepada jawapan saudara Syahid tadi, semuanya tergantung INDIVIDU tersebut. Walllahu’alam.
Wassalam
October 9th, 2008 at 1:52 pm
WA LAA TAQRABUU AL-FAAHISHAH
WA LAA TAQRABUU AZ-ZINAH
QALA RABBIY AS-SIJNU AHABBU ILAIYA MIN MAA YAD’UUNIY ILAIHI. WA ILLAA TASRIF ‘AANNIY KAIDA HUNNA WA ASBU ILAIHINNA WA AKUUN MIN AL-JAAHILIIN. Sesiapa berpacaran maka jadilah dia orang jahil.
January 21st, 2009 at 1:08 pm
Assalamu’alaikum.
yang ingin saya tanyakan bolehkah santri gontor (mahasiswa yang menjadi guru) sms an dan telpon-telponan dengan akhwat di luar pondok? walaupun hubungan mereka hanya teman saja. trus apakah itu termasuk dalam pacaran?
January 21st, 2009 at 2:50 pm
Waalaikumussalam..
Menurutku sih, ngak masalah jika memang tidak ada pacaran dalam arti yang sesungguhnya.
Cuman untuk makluman Hijauhujan (GreenRain) disiplin di pondok sentiasa berubah melihat situasi dan kondisi. Tapi disiplin (baca : syariat) tidak pernah berubah.
Jika berkaitan disiplin pondok perlu ditanyakan kepada yang masih di pondok kerana saya sudah lima tahun meninggalkan pondok. Tidak tahu disiplin terkini gimana. Mungkin aja sudah diharamkan penggunaan hp! siapa tahu?
Makasihnya.. Suka hijau ya.. aku juga hijau..
March 9th, 2010 at 4:26 pm
Salam, ikhwan semua, just nak tambah koment, sya kira jawapan akhi Shahid sudah tepat dan memadai, cuma nak tambah sikit ja, bahwa gontor adalah sebuah pondok pesantren, yang memiliki system, disiplin, sunnah2 dan nilai2 yang jelas. manakala ada seorang santri, bekas santri, atau alumnus yang berprilaku tidak sesuai dengan apa yang diajarkan gontor, maka kita hanya mengatakan, bahwa dia dari gontor, tetapi gontor bukan dia…kesalahan yang dia perbuat bukanlah seperti yang diajarkan oleh gontor…gontor tidak mampu mengawal, melihat, menilai, memperhatikan, mengawasi dan mebimbing semua alumninya yang berjumlah ratusan ribu, pasti ada santri2, alumni2nya yang berbuat tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh gontor. jadi sngat dapat dimaklumi, apabila diantara mereka ada yang salah mengambil keputusan, bertindak dan berbuat…tq..