Ibu adalah anugerah yang sangat istimewa. Anegerah Allah SWT yang sangat berharga. Kasih dan sayangnya hanya Allah SWT yang mengetahui hakikatnya. Pengorbanannya tidak sebanding yang diterima. Usahanya tak mengharap jasa.
Seperti ibu-ibu yang lain di dunia, di mata anaknya dialah segala. Sebagaimana ibuku merupakan anugerah teristemewaku yang Allah SWT karuniakan kepadaku. Pepatah arab ada yang berbunyi, ibu adalah sekolah, yang jika ada mempersiapkannya bererti anda mempersiapkan sebuah generasi yang wangi peluhnya. Peluh yang wangi dimaksudkan pekerjaan-pekerjaan yang terpuji. Ideologi asal seorang anak adalah mengikuti ideologi sang ibu. Bahkan segala tindakan, kecenderungan, kesukaan, dan sebagainya merupakan hasil dari pemerhatian anak kepada sang Ibu yang berada di sampingnya sejak dari kecil. Bahkan ada yang mengatakan pengaruh ibu pada anak bermula seawal bersatunya dua unsur di dalam rahim ibu yang mulia itu.
Mengenang sang ibunda yang berada jauh di tanah air di hari kelahirannya yang ke 46 tahun merupakan saat-saat sayu. Di temani pula dengan suhu udara panas di bumi Mesir ini, kesayuan menjadi lebih sepi dan sunyi. Terasa jauh dan keseorangan.
Tidak ada yang termampu dilakukan saat ini melainkan mengingat memori-memori indah bersama. Masih teringat pada 6 februari 1998 ketika malam perpisahaan dengan sang ibunda. Beg besar berwarna hijau masih belum terisi. Sambil baring menatap syiling sang ibu yang tercinta hadir lalu bertanya, “Betul ke ni nak tinggalkan mama..” Suaranya terketar menahan tangis. Tiada kata yang terucap. Membisu pura-pura tidak mendengarkan. Tidak semudah itu sang kecil memahami erti perpisahan. Dia masih mengira yang Indonesia itu benar-benar dekat sedekat sekolah lamanya ke rumah yang dia tinggal.
Ibu mana yang sanggup berpisah dengan anaknya. Hanya ibu yang istimewa sahajalah yang rela menjual anaknya di jalan Allah. Hanya ibu yang istemewalah yang sanggup menjadikan pahit sebagai makanan demi mendapat manis hakiki. Perpisahan dengan sang anak merupakan sebuah tekanan perasaan yang sangat berat bagi sang ibu. Namun ketabahan ibu, dan keyakinan yang tinggi kepada Allah SWT sebagaimana yang dicontohkan oleh ibunda nabi Allah Musa tatkala diperintahkan menghanyutkan anaknya ke dalam sungai membuatkan sang ibu rela menanggung sakit sementara demi kemanisan abadi.
Ketabahan sang ibu mengharungi derita nestapa tanpa perlu sedikit pun mengeluh. Kesetiaan yang sejati benar-benar mencetak anak yang hebat. Benar sang ibu juga manusia yang pernah merasa ingin berputus asa, dengan tangis berlari mencari udara melepaskan sesak di dada. Namun kesabarannya merelakannya kembali menghadapi realiti. Realiti hidup yang perit.
46 usiamu ibu. 22 tahun yang lalu engkau telah pun memiliki aku dan abangku. Di usia mudamu kau didik kami menjadi Insan berkualiti. Di saat mereka yang seusiamu masih lagi bersikap happy go lucky, spend your youth, yesterday never return, engkau dengan senang hati membelai kami dengan tangan lembutmu, sambil mendendangkan asmaul husna pengantar tidur kami. Usia mudamu itu kau korbankan untuk membesarkan kami dengan cara-cara islami jaminan keberhasilan sebuah institusi bernama keluarga.
46 usiamu ibu, kau masih lagi menjalankan rutin harianmu yang sama seperti yang engkau lakukan 24 tahun lalu. Di saat insan seusiamu sudah beristirahat menikmati kemewahan dunia, kau masih lagi membanting tulang membesarkan adik-adik.
46 tahun usiamu, namun tidak satu apa pun yang mampu anakmu hadiahkan padamu. Sekali pun ada hadiah yang ku berikan padamu tentunya ia tidak pernah akan sebanding dengan jasamu.
Terima kasih ibuku.. Terima Kasih.. Maafkan anakmu ini.. Doakanlah anakmu ini..
Selamat Hari Lahir Ibuku..







