This is some text prior to the author information. You can change this text from the admin section of WP-Gravatar Final year student, General Studies Faculty of Arabic Language, Al-Azhar Asy-Syarif University, Cairo, Egypt.


Sungguh cepat masa berlalu, tanpa kita sedari 2007 sudah pun meminta diri. Matahari, bulan dan bumi yang berputar tanpa henti membuatkan kita terlupa akan nafas yang kita hidu dan usia yang kita lalui. Selalu kita meyakinkan diri bahwa matahari akan terbit lagi, bulan pasti muncul kembali, padahal, hakikatnya matahari berputar dan putaran dulu tak akan kembali. Dengan ungkapan lain, setiap detik yang pergi sungguh tidak akan kembali. Tidak ada peluang kedua dalam hidup ini!

Lembaran 2007 ternyata mencatatkan sejarah yang gempak. Benazir dibunuh oleh pihak militan di Pakistan. Malu sebenarnya untuk mengaku yang saya tidak mengetahui banyak tentang Benazir. Akan tetapi cacatan yang saya baca di saifulislam dot com memberi sebuah tamparan hebat buat diriku. Tamparan yang menyedarkan dari lamunan panjang. Lamunan yang menghanyutkan diri jauh dari pangkal jalan.

Tamparan tersebut menimbulkan penyesalan yang mendalam. Jika Benazir begitu gigih memperjuangkan apa yang dia inginkan, adakah kita berada di dalam keadaan yang sama? Apakah kita sudah menerima tawaran Allah SWT, bukankah Allah SWT telah menawarkan untuk membeli harta dan nyawa kita dengan ganjaran syurga?

Kita harus malu jika berpegang kepada suatu yang benar akan tetapi tidak memperjuangkannya sedang di masa yang sama mereka yang memegang suatu yang kita yakini tidak benar memperjuangkan ke akhir hayat!

Maka, tiada perasan yang timbul melainkan malu. Malu terhadap diri sendiri yang masih lengah. Lengah akan kehidupan santai yang memadamkan semangat juang. Seketika teringat ungkapan syair yang dilantunkan Mutanabbi atau nama lengkapnya Ahmad bin Husain bin Abdul Shomad Al-Ja’fi Al-Kindi yang berbunyi :

yang bermaksud : “Jika anda menginginkan suatu kemuliaan, maka jangan berpuas sebelum mencapai gugusan bintang, maka sesungguhnya rasa sakit kematian pada perkara yang hina adalah sama dengan rasa sakit pada perkara yang besar”

Mati itu adalah benar. Kehadirannya adalah pasti. Perlukah takut untuk dihadapi?

Takutlah jika belum bersedia, bersedialah sebelum ianya tiba. Beranikah kita lengah padahal tibanya bila-bila masa!

Setelah penyesalan perlu ada harapan. Dengan harapan kita atur sasaran agar penyesalan tidak lagi berulang. Suasana kehidupan mahasiswa hingga hari ini boleh jika dikatakan ‘mati’. Keadaan ini perlu diubah. Usia muda ini sarat dengan potensi. Tentunya potensi itu perlulah disalurkan ke arah yang benar. Proses penyaluran inilah nanti yang akan mempengaruhi semangat juang dan tingkat keimanan seseorang. Sayangnya hari ini kita sendiri gagal menciptakan proses yang kondusif ke arah tersebut. Kehidupan mahasiswa tidak terkecuali yang di Timur Tengah dibidang agama masih lagi hanyut dengan ‘dunia sendiri’. Dunia yang mengikat diri dan jiwa dengan fantasi tabu permainan eletronik, lagu dan drama. Dunia yang membuatkan seseorang selalu mengira esok pasti ada baginya. Dunia yang membuatkan seseorang tidak ingin tahu mengenai apapun selain dirinya. Dunia yang individualis. Dunia yang tidak peduli.

Bingung memikirkan diri sendiri. 2007 sebagai bukti pada apa yang telah masing-masing kita lalui. Masihkah 2008 mencatat sejarah diri yang hina buat kesekian kalinya? Ayuh sama-sama kita lakar sejarah diri yang gemilang!!!

Leave a Reply