Seorang Murabbi bertanya kepada anak-anak didiknya, “Apakah itu waktu?”
Semua terdiam memikirkan apa yang sepatutnya dijadikan jawapan. Tentunya ada sesuatu yang ingin diutarakan Sang Murabbi. Soalan itu bukan soalan yang meminta jawapan akan tetapi soalan yang mengajak semua berfikir.
“Segala-galanya. Waktu adalah segala-galanya!” Seorang memberanikan diri untuk bersuara.
“Tidak salah. Waktu adalah jantung yang berdetak, darah yang mengalir, bumi yang berpusing (di atas poros) dan berkeliling (mengitari matahari), matahari yang terbit dan terbenam, dan manusia yang hidup dan mati.” Sang Murabbi meneruskan bicara dengan nada berirama.
Salah satu petanda waktu adalah perubahan yang terjadi disekeliling kita. Waktu yang kita mampu hitung hanyalah dengan menggunakan matahari dan bulan sebagai alat. Tempoh waktu yang kita hitung dengan bantuan matahari dan bulan adalah amat singkat, sedangkan waktu dalam hitungan Allah SWT Maha Besar dan Luas. Bayangkan sahaja jika Rasulullah kita memperingatkan kita akan jarak antara kita dan hari kiamat digambarkan umpama jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Ya, sedekat itu! Tapi kita kemudian malah bertanya, mengapa tidak kunjung tiba hari kiamat padalah Nabi SAW telah pun meninggalkan kita 1400 tahun yang lalu? Eh, nanti dulu. Perumpamaan itu mengikut hitungan Allah.
Di dalam Al-Quran banyak menceritakan akan pendeknya usia manusia sedang Allah SWT Maha kekal. Kisah yang saya maksud antaranya kisah kaum yang mempertanyakan kemampuan Allah menghidupkan sebidang tanah yang telah pun mati (tidak produktif), Allah SWT kemudian mematikan mereka selama 100 tahun kemudian menghidupkan mereka kembali. Mereka kemudian tertanya-tanya berapa lamakah mereka telah tertidur. Allah memerintahkan untuk melihat kepada sekeliling mereka yang sudah pun berubah sebagaimana perubahan yang turut terjadi pada diri mereka. Peristiwa yang hampir serupa terjadi kepada fityah (kumpulan anak muda) yang kita kenal dengan Ashabul Kahfi. Mereka juga diperlihatkan oleh Allah SWT kekuasaan dimana Allah SWT dengan kehendaknya menggantikan satu kaum dengan kaum yang lain untuk menempati sebuah tempat yang sama. Amaran yang sama selalu kita dengan seperti ayat yang mafhumnya, “Jika Allah berkehendak, Dia akan menghilangkan kalian semua dan mendatangkan kaum yang lain!”
Demikianlah kenyataan sebenar bagaimana pendeknya usia sebagai makhluk lemah bernama manusia. Jika kita tidak menggunakan waktu yang ada dengan sebaiknya maka niscaya kita akan tergolong dalam kelompok manusia yang rugi. Ketika kita bersantai membuang masa, adakah jantung kita berhenti? adakah darah kita tidak mengalir? adakah bumi diam tidak berputar?
Mengenang semua ini, aku teringatkan sejarah diri yang aku telah lalui. Sedar tak sedar, sudah sepuluh tahun aku melangkah meninggalkan bumi Malaysia untuk menuntut ilmu. Sebuah jangka masa yang lumayan panjang bagi manusia. Hingga hari ini aku masih ingat tarikh penuh sejarah itu. Februari, tujuh hari bulan 1998. Penerbangan Malaysia (MAS) Kuala Lumpur - Surabaya adalah pemula perjalanan. Itu juga memberi makna bahawa aku sudah melalui tarikh keramat yang telah memuntahkan aku dari kegelapan rahim ke terang bumi cahaya mentari selama sepuluh kali. Rahim ibu adalah salah satu dari 3 kegelapan yang pasti setiap manusia lalui. Jika disorot pandangan dari angkasa lepas akan terlihatlah aku berada di atas muka bumi ini melakukan segala sesuatu selama 23 kali bumi berputar mengelilingi matahari. 23 kali!!! Subhanallah..
Malangnya jika dilihat dengan teliti lagi, tidak ada sedikit pun perubahan atau kebaikan yang diterima sekeliling tempat aku berada selama tempoh tersebut. Bukankah itu ertinya sia-sia?
Dalam hanyut merenung aku terima sms bunda, bunyinya begini,
Salam.. Semoga hari ini mengembalikan ‘ID’ bertafakkur atas tujuan penciptaan ‘ID’, semoga membuahkan keinsafan dan mencetuskan gerak langkah yang tidak pernah akan terhenti atau jadi perlahan tetap yang akan terus mara dan meningkat intensitinya dalam pengabdian sebenar kepada Rabbul Alamin, agar memperolehi Redha dan Jannatul FirdausNYA. Doakan kami orang tuamu..
Terkelu aku membaca sms bunda. Tiada kata yang terucap. Tiada tangis yang menitis. Tiada daya untuk melakukan apa. Adakah aku selama ini benar-benar bersungguh-sungguh!!
Menyesal saja tidak cukup. Langkah perlu benar-benar diambil. Tekad perlu kembali diperteguhkan. To do list untuk setahun mendatang perlu segera dibuat.
Setelah beberapa ketika ada sebuah sms yang berharga diterima lagi. Kali ini nombor awalnya +966… wah ini dari Saudi! Adikku yang belajar di sana yang kirim, bunyinya begini,
Perkara yang paling aku kesali dalam sehari adalah terbenamnya matahari, umurku berkurangan, akan tetapi amalanku tidak bertambah - Ibnu Mas’ud R.A
Begitulah seharusnya kita manusia selalu bersikap. Setiap detik berharga perlu kita manfaatkan dengan baik. Agar tidak menyesal.
~o0o~
Sempena ulang tahun ke sepuluh di perantauan ibunda telah mengirim sebuah kaos. Makasih Bunda!!

Pagi ini setelah usai peperiksaan aku singgah ke kedai khusus yang menjual organ-organ seperti, hati, paru dan perut. Aku segera meminta dia membungkuskan 3 buah kaki lembu. 2 ukuran kecil dan satu ukuran besar. Kita buat sop!!

Ada ke patut dia kata WEK!! Bersih lagi suci gitu loh!! ^_^
Kaki atau kawari’ atau kikil adalah makanan yang jarang-jarang orang makan. Kali ini tidak banyak menggunakan bahan. Apa yang aku letak hanya kuib daging, halia, rempah sup, bunga lawang dan cengkih. Bertemankan sambal kicap cili padi dan bihun. Mama, abah mesti rindu makan ID kan.. Jom kita makan!
 
Mama, abah jemput makan!! Sume jemput makan!!
Sempena hari bahagia ini saya ingin mengucapkan ribuan ampun dan maaf kepada semua yang mengenali diri ini mahu pun yang tidak mengenali diriku atau hanya mengenal melalui ‘dunia’ yang satu ini. Tentunya kalian lebih dapat melihat noda-noda hitam yang banyak mengotori wajahku dari diriku sendiri. Kelakuanku yang buruk sengaja mahu pun tidak, jelas mahu pun samar-samar, sengaja mahu pun tidak sengaja, sedikit mahu pun banyak mohon dengan segala kerendahan hati agar kalian sudi memberikan sedikit kasihan demi mengampunkan dosa-dosa tersebut. Sungguh saya hanyalah orang biasa malah orang lebih teruk dari kebiasaan orang namun seandainya kalian sudi memberikan ampunan dan maaf maka ia bakal merupakan suatu yang luar biasa.
Tidak lupa diucapkan kepada Ibunda yang merupakan insan paling istimewa bagi diriku, juga tidak terlupakan ayahanda, terima kasih atas segala bakti yang telah dicurahkan kepada kami, semoga semua itu menjadi pemberat di neraca hisab Allah SWT di hari kiamat kelak. Jika diharap balasan dari kami sungguh tidak kami termampu menandingi kasih dan sayang kalian kepada kami. Semoga Allah menjadikan kami antara mereka yang berusaha sehabis baik untuk berbakti kepada kalian berdua.
Tidak dilupakan semua yang memiliki ‘fadlun’ ke atas diri ini. Tanpa kalian siapalah saya. Usaha gigih kalian mendidik dan mengasuh saya adalah amat sangat dihargai. Jazakumullahu khairal jaza’..
Kepada kawan-kawan yang sudah mendoakan saya pada hari bahagia ini samaada melalui sms, friendster, email bahkan telepon, saya ucapkan ribuan terima kasih. Semoga Allah SWT menjadi saksi persahabatan kita dan menjadi matlamat hubungan yang tercipta.







