FUDHOIL BIN ‘IYADH (105H- 187H)
“ITTABI’IS SAYYIATAL HASANATA TAMHUHAâ€ÂÂ
Fudhoil Bin ‘Iyadh rahimahullah dilahirkan di sebuah kota bernama Nisa yang berada di bawah wilayah Samarkand, pada tahun 105 H. Tumbuh sebagai remaja yang paling ditakuti. Menghalang jalan dan merompak harta-benda adalah pekerjaannya. Padang pasir antara Abyurad dan Muru adalah teritorinya sehingga padang pasir tersebut dikenali dengan namanya ‘fudhoil’. Para qofilah yang bermusafir akan sedaya upaya menjauhi kawasan tersebut agar terselamat dari gangguan Fudhoil. Fudhoil hidup dengan harta yang melimpah ruah hasil dari perbuatan kejinya dan tenggelam dalam segala kenikmatan dunia.

Pada suatu hari Fudhoil bertemu dengan seorang wanita yang telah mencuri hatinya. Dia telah jatuh cinta kepadanya. Pertemuannya dengan wanita ini telah merubah hidup Fudhoil. Bahkan kerananyalah Fudhoil menemukan cinta hakiki. Fikiran tentang wanita ini sering kali bermain di mindanya. Wanita ini telah banyak mencuri dan mengalihkan perhatian Fudhoil daripada pekerjaan sebagai perompak. Fudhoil mula mancari akal bagaimana agar selalu mendapat peluang untuk terserempak dengan wanita ini. Inilah kuasa cinta yang telah merubah hidup seorang Fudhoil. Fudhoil akhirnya memutuskan untuk menemui wanita yang telah mencuri hatinya dengan menunggu sehingga penghujung malam di saat semua manusia telah lena tertidur menikmati gelapnya malam untuk pergi ke rumah kekasihnya itu. Cinta telah membutakan segala-galanya. Fudhoil memanjat dinding yang mengelilingi kawasan itu dan menuju ke rumah wanita itu. Suasana sepi yang membuatkan langakah kaki Fudhoil adalah satu-satunya suara yang terdengar. Setelah mengenal pasti rumah kekasihnya, Fudhoil berusaha untuk menghampiri rumah tersebut. Kini Fudhoil dan kekasihnya hanya dipisah oleh sebuah dinding. Belum sempat dia meneruskan langkah terakhirnya untuk bertemu si kekasih yang dirindui hinggaplah ke kuping telinganya bacaan merdu yang mensyahdukan lagi suasana sepi malam itu. Lantuanan tersebut adalah bacaan surah Al-Hadid ayat 16 yang bermaksud,
‘Belum sampaikah lagi masanya, bagi orang-orang yang beriman untuk khusyu’ hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran Allah serta mematuhi kebenaran (al-quran) yang diturunkan? Dan janganlah pula mereka menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Kitab sebelum mereka, setelah mereka lanjut usia hati mereka menjadi keras, dan banyak di antaranya orang-orang yang fasik.’
Lantunan yang hinggap ke telinga Fudhoil seakan-akan berubah menjadi air sejuk yang mengalir ke hatinya. Seketika dia terkejut, jatuh dan berkata “Benar wahai tuhanku, telah tiba masanya.†Fudhoil berubah ketika itu juga. Ya ketika juga, dia telah menjadi seorang Fudhoil yang baru. Dia tergesa-gesa bangun dan pergi sambil mengulang-ngulang ucapan tadi.
Sisa-sisa malam yang tingal itu menjadi saksi akan perjanjian baru yang diistiharkan Fudhoil dengan Tuhannya. Di saat itu jugalah telah dikuburkan si penjahat, penyamun yang meresahkan masyarakat dan lahirlah seorang Fudhoil yang zuhud dan bijaksana.
Fudhoil memutuskan untuk meniggalkan tempat itu dan pulang ke sarkhas, di perjalanan dia sehinggah ke sebuah pondok yang mungkin sekarang ini dikenal sebagi hotel, tempat penginapan. Di pondok itu dia terjumpa sekelompok musafir yang sedang berbincang antara mereka sama ada untuk memulakan perjalanan saat itu atau menunggu terbit matahari, lalu berkatalah salah seorang dari mereka “Lebih baik kita menunggu pagi hari, sesungguhnya jalan itu tidak selamat kerana ada Fudhoilâ€ÂÂ. Maka pergilah Fudhoil berhadapan dengan mereka dalam keadaan sendu akibat tangisan yang dahsyat sambil berkata “Sesungguhnya Allah SWT telah membersihkan jalan itu dari Fudhoil, Inilah dia Fudhoil yang telah bertaubat di hadapan kalian, dan aku berharap agar kalian tidak akan lagi menemukan aku setelah hari ini melainkan sedang bermunajat di Masjidil Haramâ€ÂÂ. Dia kembali meneruskan perjalanannya sambil berkata kepada dirinya “Aku berusaha pada malam hari untuk melakukan maksiat sedang sekelompok mu’minin disini ketakutan disebabkan diriku, Sungguh Allah SWT telah menuntunku agar menemui mereka pada malam ini agar aku sedar dan berhenti. Wahai tuhanku aku bertaubat kepadaMu dan aku ingin agar taubatku ini berdekatan dengan rumahmu ya Allahâ€ÂÂ
Dari Ibnu ‘Asakir, Ibrahim bin Asy’ast berkata “ Aku belum pernah melihat seseorang yang mana Allah SWT berada di hatinya lebih besar dari Fudhoil, sesungguhnya dia jika mengingati Allah SWT atau mendengar bacaan Al-Qur’an, maka akan ketakutan dan sedih. Matanya akan banjir dengan air mata, dia menangis sehingga orang yang berada di sekitarnya merasa kasihan. Dia akan selalu sedih dan berfikir.â€ÂÂ
Abdullah Bin Mubarak pernah berkata dan dia diantara mereka yang sering bersama Fudhoil “Jika aku melihat Fudhoil maka akan bangkit perasaan sedih pada diriku dan membuatkanku membenci diriku†lalu dia (Abdullah) menangis.
Arrasyid pernah berkata kepada Ma’mun “Aku tidak pernah melihat seseorang seperti Fudhoil, dia telah berkata kepadaku ketika aku mendatanginya, wahai amirul mu’minin kosongkanlah hatimu untuk rasa takut dan sedih, sehingga kedua perasaan itu menempatinya (hati), maka kedua perasaan itu akan menghentikanmu dari bermaksiat terhadap Allah SWT dan menjauhkanmu dari api nerakaâ€ÂÂ
Ishak Bin Ibrahim pernah bercerita tentang Fudhoil. “Kata-katanya benar, lidahnya jujur, sangat berkharisma ketika berkata-kata, dan dia sangat berat untuk berkata-kata seakan-akan dia berkata kepadaku, seandainya engkau meminta dariku sejumlah dirham adalah lebih mudah bagiku untuk memberikannya dibanding jika engkau memintaku untuk mengatakan sesuatu. Lalu aku (Ishak) menjawab, tetapi ketika engkau mengucapkan sesuatu maka ia merupakan hal-hal yang aku tidak miliki dan aku lebih menyukainya daripada memdapatkan sejumlah dirham. Fudhoil berkata bahwa sesungguhnya engkau telah gila, tidak mengapalah kalau seandainya engkau mengamalkan apa yang engkau dengarkan akan tetapi engkau disibukkan dengan hal-hal yang tidak engkau dengarkan. Sulaiman Bin Mehran mengumpakan kata-kata Fudhoil itu dengan berkata “Jika engkau memiliki makanan bersamamu lalu engkau ambil secuit lalu kau lemparkannya kebelakang tubuhmu, lalu kamu mengulangi hal yang sama maka bilakah kamu akan kenyang?â€ÂÂ
Ishak Bin Ibrahim juga pernah berkata bahwa Fudhoil akan menghamparkan alas seperti permaidani di dalam masjidnya. Dia akan mendirikan solat malamnya pada awal malam lalu dia tidur sebentar di atas alas tadi, kemudian bangun solat kembali lalu jika terlalu mengantuk maka dia akan tidur lagi sebentar dan bangun kembali sehinggalah waktu subuh datang.
Cinta Fudhoil terhadap Allah SWT turut juga diresap oleh ahli keluarganya. Suatu hari Fudhoil berkata: “Aku melihat anakku Ali menangis lalu aku tanyakan padanya apa yang menyebabkannya menangisâ€ÂÂ. Ali berkata : “Aku takut kita tidak akan dikumpulkan pada hari kiamat.†Maka Fudhoil mengawasi anaknya pada malam hari ketika Ali berada di dalam biliknya dan mendengar dia berkata, “Neraka… bile berakhirnya neraka??? Lalu berkata kepada ayahnya, Wahai ayahku pohonlah kepada Dia yang menghadiahkan engkau kepadaku di dunia agar Dia mengurniakan engkau padaku di akhirat kelak. Ali telah pulang ke rahmatullah sebelum ayahnya. Dia meninggalkan dunia tatkala mendengar bacaan ayat 27 dari surah Al-An’am yang bermaksud,
‘Dan sungguh ngeri jika engkau melihat ketika mereka didirikan di tepi neraka (untuk menyaksikan azab yang tidak terperi), lalu mereka berkata: Andai kiranya kami dikembalikan ke dunia, dan kami tidak akan mendustakan lagi ayat-ayat keterangan Tuhan kami, dan menjadilah kami dari golongan yang beriman’
Demikian juga halnya pada anak perempuan Fudhoil yang juga begitu wara’ dan sangat mencintai Tuhan yang Maha Esa. Fudhoil yang sering menjadi pengisi rohani, motivator dan penasihat kepada orang-orang besar seperti Ar-Rasyid dan Sufyan Bin ‘Uyainah, yang bila berceramah mampu membuatkan mereka menangis namun ketika berada di rumah Fudhoil mendengarkan nasehat, peringatan dan teguran dari anak perempuannya sendiri. Bahkan Fudhoil seakan-akan menjadi seorang anak murid sedang anaknya seperti guru.
Suatu ketiak tangan anaknya tercedera, setelah Fudhoil mengubatinya dia bertanya,â€ÂÂWahai anakku bagaimanakan tanganmu kini?†lalu puterinya menjawab, “Wahai ayahku, sesungguhnya Allah SWT telah melimpahkan rahmatnya yang sangat luas kepadaku, yang mana syukurku tidak akan sebanding dengannya selama-lamanyaâ€ÂÂ
Fudhoil berkata,â€ÂÂAku sedang duduk bersama anak perempuanku lalu datanglah si kecil yang berumur tiga tahun, maka anak perempuanku mendukungnya, memeluknya dan menciumnya sebelum akhirnya diletakkan di dadaku lalu berkata, “Wahai ayahku, apakah kamu mencintai adikku ini?†maka aku menjawab, “Demi Allah wahai puteriku, aku mencintainya†Dia lalu berkata, “Betapa buruknya jawapanmu wahai ayahku, aku mengira engkau tidak mencintai sesuatu melainkan Allah†Aku berkata lagi,â€ÂÂWahai anakku apakah kamu tidak menyintai anak-anak mu?†dia menjawab, “Cinta adalah milik pencipta sedangkan kasih sayang adalah milik anak-anak†mendengar itu Fudhoil terus menampar dirinya. Demikianlah cinta anak-anak Fudhoil kepada Allah SWT.
Ibrahim Ibn Asy’as berkata bahwa dia mendengar Fudhoil berkata, â€ÂÂOrang yang paling penipu adalah mereka yang mengulangi dosanya, sedang orang yang paling bodoh adalah yang menunjukkan kebaikan yang dia lakukan. Orang yang paling mengenali Tuhan adalah mereka yang paling takut padaNya. Sungguh tidak akan sempurna seseorang hamba sehingga agamanya mempengaruhi syahwatnya dan sungguh tidak akan hancur seseorang hamba sehingga nafsunya mempengaruhi agamanyaâ€ÂÂ
Fudhoil juga pernah berkata “Meninggalkan suatu perbuatan kerana manusia adalah riya’ sedangkan melakukan perbuatan kerana manusia adalah syirik. Ikhlas adalah sekiranya Allah SWT melindungi dari keduanyaâ€ÂÂ. Dia juga pernah berkata, “Apa yang kamu anggap kecil dari dosa yang kamu lakukan dalah besar di sisi Allah sedang apa yang kamu anggap besar dari kebaikan yang kamu kerjakan adalah kecil di sisi Allah.â€ÂÂ
Fudhoil berdoa ketika sakit tenat yang mengakhiri hayatnya, “Allahummarhamni jabbi iyyaka, falaisa syaiin ahabba ilayya minka†yang bermaksud, “Wahai Tuhanku, rahmatilah aku dengan segala keburukan yang aku lakukan terhadapmu, sesungguhnya tidak ada yang lebih aku cintai melainkan diriMuâ€ÂÂ
Demikianlah beberapa peristiwa bersama Fudhoil Bin ‘Iyadh yang harus kita jadikan contoh.
Ya Allah berikanlah kami, hati-hati kami perasaan cinta yang hakiki, seperti mana yang Engkau karunikan kepada para rasul Mu, para sahabat, dan Fudhoil serta keluarganya.
Suntingan dari tulisan Syeikh Dr Ramadhon Buty dalam bukunya, Syakhshiyyat istauqofatni – Darul Fikr, Dimasyq, Syria
H-10, Madinat Nasr
13 Februari 2007 02.14 am
Artikel juga diterbitkan dalam Wadah Abim Mesir edisi februari 2007






